kenapa gudang beras penuh tapi harga naik?

Sebuah wasit boleh meniup peluit, atau ikut bermain — tidak keduanya. Di pasar beras hari ini, tangan yang menetapkan aturan harga adalah tangan yang sama yang memborong paling banyak. Dari kursi penggilingan, saya menebak siapa yang membayar selisihnya.

Ada dua rombongan yang rutin datang ke halaman gudang tahun ini. Yang pertama besar dan tua: truk pengadaan yang menyapu gabah dan beras dalam jumlah raksasa untuk mengisi cadangan negara. Yang kedua lebih baru: kendaraan yang memuat beras untuk dapur-dapur program makan bergizi. Keduanya membeli dengan uang negara, nyaris tak pernah menawar, dan anehnya jarang disebut ketika pejabat menjelaskan kenapa harga beras menembus rekor.

Angkanya bikin dahi berkerut. BPS melaporkan, pada minggu ketiga September 2026, rata-rata beras medium nasional Rp14.644 per kilogram dan premium Rp16.495 — tertinggi dalam setahun. Bandingkan HET premium Rp14.900: harga eceran, di banyak tempat, sudah menyalip plafon yang katanya wajib ditaati. Di saat yang sama, stok cadangan Bulog dilaporkan mencetak rekor tertinggi sepanjang sejarah Republik, sekitar 5,25 juta ton pada puncaknya, dan harga beras disebut naik delapan bulan berturut-turut sejak Januari — justru di tahun ketika gudang negara paling penuh. Kalau gudang penuh tapi harga tetap naik, pasti ada pemain besar yang menarik pasokan ke satu arah.

Wasit yang ikut berbelanja

Bayangkan pertandingan sepak bola dengan seorang wasit yang, di sela meniup peluit, ikut menggiring bola dan mencetak gol. Kita langsung merasa ada yang salah — bukan karena wasit itu jahat, tapi karena satu orang tidak bisa sekaligus menjadi pengadil dan pemain. Itulah posisi negara di pasar beras hari ini. Satu tangan memegang peluit: menetapkan HET, menggelar sidak, mengancam menutup toko yang menjual di atas plafon. Tangan yang lain turun ke lapangan sebagai pembeli terbesar — Bulog dilaporkan menyerap beras petani mendekati 4 juta ton sepanjang 2026, rekor yang dirayakan sebagai prestasi. Padahal setiap ton yang disapu ke gudang adalah satu ton yang tak beredar di pasar komersial, dan mengejar target sebesar itu menuntut pembelian agresif.

Di sinilah kuncinya, dan ini bukan cuma dugaan saya: sebuah analisis pasar independen pada awal September menyebut terus terang bahwa perburuan Bulog mengejar target empat juta ton menciptakan persaingan pembeli yang mendorong harga gabah naik. Ketika pembeli berkantong negara — yang tak perlu untung dan tak pernah kalah menawar — masuk ke pasar gabah, petani senang, harga hulu terangkat, dan penggilingan swasta yang harus berhitung untung-rugi kalah cepat berebut bahan baku. Program makan bergizi, dengan kebutuhan sekitar 1,7 juta ton setahun, adalah keranjang kedua yang lebih kecil tapi searah.

Berbelanja lewat tangan yang paling berotot

Wasit ini pun tidak berbelanja sendirian — ia berbelanja lewat tangan-tangan terbesar. Pertengahan September lalu dilaporkan Bulog menggandeng Wilmar Group, salah satu raksasa pangan, untuk bersama memproduksi beras premium dan memanfaatkan pabrik-pabriknya. Kemitraan seperti ini sah dan bisa jadi efisien; ini bukan soal benar-salah satu perusahaan, melainkan soal bentuk pasar yang terbentuk. Sebab dampaknya terasa persis di keran gabah: pemain yang sudah memegang kepastian serapan dari negara punya alasan dan napas untuk memburu gabah lebih agresif — sementara penggilingan kecil di sebelahnya, tanpa kontrak apa pun, harus berebut gabah yang sama lalu tetap dipatok menjual di HET. Begitulah asimetri berlipat: negara bukan hanya ikut bermain, ia bermain lewat pemain paling berotot, dan remah untuk yang kecil makin tipis.

“Menyerap surplus”: sebuah sulap kata

Ketika ditanya, jawaban resmi hampir selalu memakai satu frasa yang menenangkan: program-program ini menyerap surplus. Tahan sebentar di kata itu, karena di situ bekerja sesat pikir yang dalam ilmu logika disebut sesat bingkai atau framing, disertai eufemisme — memilih kata halus untuk perbuatan yang keras.

Membingkai itu seperti memilih sudut foto: objek sama, kesan diatur. “Menyerap surplus” memotret negara seolah tukang pungut yang membereskan sisa di lantai pasar — pasif, membantu, mustahil bikin mahal. Padahal peristiwanya pembelian aktif dalam volume terbesar di seluruh pasar, dengan target yang harus dikejar. Kalau satu pembeli memborong hampir empat juta ton dan membayar tunai tanpa menawar, adakah pedagang waras yang percaya harga akan turun karenanya? Menyebutnya “menyerap surplus” tak mengubah kenyataan bahwa itu permintaan — dan permintaan sebesar itu menopang lantai harga, bukan menurunkannya. Tidak bisa dua-duanya benar: mengaku menyerap habis-habisan demi rekor stok, sekaligus mengaku tak berpengaruh pada harga.

Satu fakta yang menghibur, seribu yang disembunyikan

Cacat kedua lebih halus, namanya bukti yang disembunyikan — dalam logika disebut suppressed evidence: menyodorkan satu fakta benar, tapi diam-diam menyingkirkan fakta lain yang membalik kesimpulan.

Benar, negara menggelontorkan beras stabilisasi ke pasar. Tapi berapa? Dilaporkan hanya seribu sampai dua ribu ton di akhir pekan — setetes, dibanding jutaan ton yang disedot ke gudang. Menonjolkan tetesan yang keluar sambil menutupi bah yang masuk sama seperti tukang yang memamerkan seember air yang ia tuang ke kolam, sambil bungkam soal pompa besar yang menyedotnya dari sisi lain. Di sisi program makan bergizi, faktanya lebih terang: pedagang melaporkan harga mengendur saat sekolah libur, lalu naik lagi begitu program jalan. Dan di atasnya, angka BPS yang keras kepala: eceran tertinggi setahun, naik delapan bulan tanpa henti.

Saya perlu jujur, karena kejujuran itu modal argumen ini. Harga gabah tinggi bukan salah Bulog atau program makan bergizi seorang diri — musim gadu menurunkan produksi, biaya naik sejak HPP dipatok, distribusi tersendat, rupiah melemah. Menuding satu pihak sebagai biang tunggal justru mengulang sesat pikir yang sama dari arah berlawanan. Tuntutan saya lebih sederhana: jangan hapus pembeli sebesar negara dari papan tulis, lalu berpura-pura harga naik semata karena “pedagang nakal” di hilir.

Peluit tak bisa ditiup untuk diri sendiri

Energi pengawasan diarahkan ke gejala di hilir — sidak pasar, periksa toko, ancam sanksi — sementara salah satu pendorong terbesar di hulu justru berasal dari keputusan belanja negara sendiri. Ini bentuk salah sasaran, atau wrong problem: peluit ditiup ke arah pedagang kecil, padahal bola sedang digiring oleh tim yang memegang peluit. Ibarat orang menahan tutup panci agar tak meluap, sambil kaki lain terus membesarkan kompor. Yang meletup nanti bukan tangan yang menekan tutup, melainkan panci di tengah — dan di rantai beras, panci di tengah itu penggilingan.

Kami ini pengambil harga, bukan penentu harga. Kami berebut gabah yang harganya ditarik naik oleh pembeli bermodal APBN yang tak perlu untung, lalu disuruh menjual beras di plafon HET yang tak menutup ongkos. Selisih itu tidak menguap. Ia hanya berpindah dan menumpuk di titik yang paling tak punya suara.

Yang kami minta

Kami tidak menolak pengawasan; negara memang wajib menjaga harga di meja rakyat, dan menyerap gabah untuk melindungi petani serta mengisi cadangan adalah tugas yang sah. Kami juga tidak meminta HET dinaikkan — itu justru menjadi sinyal agar harga gabah naik lagi. Yang kami minta cuma satu: kejujuran hitungan, dan kesadaran akan konflik peran.

Kalau negara adalah pembeli terbesar sekaligus wasit, akui itu di papan tulis. Seimbangkan serapan Bulog dan program makan bergizi dengan kebutuhan pasar komersial, supaya penggilingan yang taat aturan tidak kalah berebut bahan baku melawan tangan negara sendiri. Kalau ada sidak, baca struktur biaya kami secara utuh — bahan baku, rendemen dan susut, pengeringan, listrik, tenaga kerja, karung, angkut — bukan cuma harga jual. Dan kalau kebijakan sebesar ini dirancang, ajak bicara orang yang setiap pagi berdiri di depan corong gabah. Kebijakan yang adil bukan yang membuat satu pihak menang di atas kertas, melainkan yang membuat semua pihak sama-sama bisa terus hidup.

Wasit itu akan turun berbelanja lagi besok pagi. Saya tidak keberatan cadangan negara penuh dan anak-anak makan kenyang — itu mulia. Saya hanya minta jangan ada yang berpura-pura bahwa pembeli terbesar di lapangan tidak menggerakkan skor.

Penulis adalah pelaku usaha penggilingan beras. Tulisan ini adalah opini pribadi.

Sources: