
Pejabat mengajak kita membuktikan bahwa semuanya baik-baik saja dengan menengok gudang yang penuh. Tapi lapar bukan soal apa yang menumpuk di rak — ia soal apa yang sampai ke piring, dan berapa harganya saat sampai.
Belakangan ini ada satu kalimat yang berulang dari para pejabat, dan nadanya terdengar sangat jujur: datang, lihat sendiri. Seorang anggota dewan menantang para pengkritik untuk mengecek langsung gudang Bulog yang katanya penuh, sebagai bukti bahwa swasembada beras memang nyata dan negara ini tak lagi mengimpor. Direktur Utama Bulog pun, beberapa bulan sebelumnya, membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat langsung kondisi stok di gudang — sebagai wujud keterbukaan, katanya. Stok pemerintah dilaporkan aman sampai awal 2027.
Saya pemilik penggilingan padi. Saya tidak keberatan diajak melihat gudang. Masalahnya bukan pada undangannya. Masalahnya pada apa yang diminta untuk saya percaya setelah melihat.
Undangan yang Terdengar Meyakinkan
Harus diakui, “lihat sendiri” adalah ajakan yang sulit ditolak. Ia terdengar transparan, berani, tidak ada yang disembunyikan. Pintu gudang dibuka, karung-karung ditumpuk sampai ke langit-langit, dan siapa pun yang berdiri di depannya akan merasa tenang. Gambar itu kuat. Ia menempel di kepala jauh lebih lekat daripada tabel angka mana pun.
Dan di situlah justru letak jebakannya. Sebuah gambar yang kuat bisa membuat kita berhenti bertanya — padahal pertanyaannya belum terjawab sama sekali.
Sesat Pikir Pertama: Seruan pada Mata (ad oculos)
Yang pertama perlu kita namai adalah seruan pada penglihatan — dalam istilah bakunya disebut argumentum ad oculos, atau yang lebih luas dikenal sebagai bukti yang memukau mata (misleading vividness). Sesat pikir ini bekerja begini: sesuatu yang bisa kita lihat dengan mata kepala sendiri disodorkan sebagai bukti atas sebuah klaim yang sebenarnya tak bisa diputuskan oleh penglihatan.
Analoginya sederhana. Bayangkan seorang pemilik kontrakan menolak keluhan bahwa keluarganya kelaparan. Ia membuka pintu dapur lebar-lebar: “Lihat sendiri, lemari makanan saya penuh.” Dan memang penuh. Tapi lemari yang penuh tidak membuktikan tidak ada yang lapar. Mungkin lemari itu terkunci. Mungkin isinya tak pernah turun ke meja. Mungkin yang lapar justru orang-orang di luar rumah itu, yang tak punya kunci. Kenyang atau lapar diukur dari apa yang sampai ke piring — bukan dari apa yang bertumpuk di rak.
Gudang Bulog yang penuh adalah lemari makanan yang penuh. Ia pemandangan yang menenangkan, tapi ia tidak menjawab pertanyaan yang sedang ditanyakan orang banyak: mengapa beras di pasar mahal? Mata kita bisa memastikan karung menumpuk. Mata kita tidak bisa memastikan harga.
Sesat Pikir Kedua: Stok Bukan Harga (non sequitur)
Yang kedua lebih halus, dan lebih sering lolos. Namanya kesimpulan yang tak nyambung — istilah bakunya non sequitur, “tidak mengikuti”. Artinya: kesimpulannya tidak keluar dari buktinya, meski keduanya diletakkan berdampingan seolah saling menyambung. Di sini buktinya adalah stok penuh; kesimpulan yang diselipkan adalah harga aman. Padahal keduanya dua makhluk yang berbeda.
Stok adalah potret sesaat — berapa banyak beras yang tergeletak di gudang pada satu titik waktu. Harga adalah soal aliran: berapa cepat beras itu keluar, lewat pipa yang mana, dengan ongkos berapa, sampai ke tangan siapa. Tangki air boleh penuh sampai bibir, tapi kalau pipanya sempit atau kerannya seret, air di dapur tetap menetes sedikit-sedikit. Penuhnya tangki tidak pernah otomatis berarti derasnya keran.
Dan ada satu fakta yang membuat potret gudang itu makin rapuh sebagai bukti: potret itu bergerak. Stok beras pemerintah yang dilaporkan sempat disebut tertinggi dalam sejarah, sekitar 5,2–5,4 juta ton, belakangan dilaporkan tinggal sekitar 4,55 juta ton pada pertengahan Oktober — susut hampir 0,85 juta ton hanya dalam sebulan, tergerus penyaluran bantuan dan operasi pasar. Jadi “penuh” yang kita diminta saksikan hari ini pun bukan angka yang diam. Memotret tangki yang sedang bocor lalu berkata “lihat, penuh” bukanlah bukti bahwa air mengalir deras — justru sebaliknya.
Sementara itu, di ujung yang lain, harga eceran beras dilaporkan merangkak di atas Harga Eceran Tertinggi: beras medium di kisaran Rp15.000–15.500 per kilogram dan premium menyentuh Rp17.500–19.000 di sejumlah pasar, padahal HET premium zona pertama cuma Rp14.900. Kalau gudang yang penuh adalah bukti harga aman, mengapa harga justru naik di saat gudang dibuka untuk ditengok? Dua hal itu berdiri bersamaan tanpa saling meniadakan — persis karena stok dan harga memang bukan hal yang sama.
Gudang yang Tak Pernah Saya Tengok
Izinkan saya memindahkan tur ini ke tempat yang jarang diundang untuk dilihat: halaman penggilingan, jam empat pagi, saat truk gabah pertama masuk.
Di sana tidak ada karung menumpuk sampai langit-langit. Yang ada adalah timbangan, dan angka yang muncul di timbangan itu bukan saya yang menentukan. Gabah kering panen dilaporkan berpindah tangan di kisaran Rp7.000 sampai Rp9.000 per kilogram — bahkan seorang menteri menyebut angka Rp9.200 — sementara harga pembelian pemerintah dipatok Rp6.500. Saya harus membeli di harga pasar kalau mesin mau tetap berputar dan pekerja tetap digaji. Lalu beras yang keluar dari mesin saya diminta dijual di bawah plafon HET yang dihitung seolah gabah masih Rp6.500.
Penuh atau kosongnya gudang Bulog, sejujurnya, tidak mengubah satu angka pun di timbangan saya pagi itu. Saya price-taker — penerima harga — di kedua ujung: tak menentukan harga gabah yang saya beli, tak menentukan plafon beras yang saya jual. Saya berdiri di tengah, tempat kedua tekanan itu bertemu dan beradu. Tur ke gudang yang penuh adalah tur ke tempat yang bukan sumber masalahnya. Ia memamerkan hasil akhir penyerapan, sambil memalingkan mata dari jurang di tengah rantai tempat orang seperti saya mencoba bertahan.
Lihatlah — Tapi Lihat yang Benar
Saya tidak sedang menuduh siapa pun berbohong soal isi gudang. Saya percaya karung-karung itu memang ada. Saya juga tidak menolak pengawasan; silakan pemerintah mengawasi, itu memang tugasnya. Dan saya tidak sedang meminta HET dinaikkan — menaikkan plafon beras hanya akan jadi sinyal bahwa harga gabah boleh naik lagi, dan lingkaran itu akan berputar makin cepat sampai menelan semua orang di dalamnya.
Yang saya minta hanya satu: kalau kita memang diajak melihat, mari lihat benda yang benar. Bukan tumpukan karung yang menenangkan mata, melainkan struktur biaya yang utuh — harga gabah, susut dan rendemen, ongkos pengeringan, listrik dan solar, upah tenaga, karung, angkutan, sampai margin tipis yang tersisa. Mari lihat jarak antara harga gabah di hulu dan HET di hilir yang tidak pernah disambungkan, sehingga seluruh tegangannya menumpuk di penggilingan di tengah. Mari lihat keseimbangan antara agresifnya penyerapan dan hidupnya pasar komersial. Dan sebelum kebijakan baru diketuk, mari ajak bicara orang-orang yang tiap subuh berdiri di depan timbangan itu.
Gudang yang penuh adalah jawaban yang indah untuk pertanyaan yang tidak sedang ditanyakan. Pertanyaan yang sebenarnya bukan “apakah berasnya ada”, melainkan “kenapa beras yang ada itu mahal, dan siapa yang remuk di jalan antara gudang dan piring”. Untuk menjawab itu, jangan ajak saya melihat gudang. Ajak saya melihat timbangan.
Penulis adalah pelaku usaha penggilingan beras. Tulisan ini adalah opini pribadi.
Sources:
- Dirut Bulog Ahmad Rizal persilakan masyarakat cek langsung stok beras di gudang — ANTARA
- Andre Rosiade tinjau gudang Bulog Sumbar, stok beras aman hingga 2027 — detikNews
- Klaim swasembada bukan omon-omon, Andre Rosiade tantang pengkritik cek gudang Bulog — Suara.com
- Bulog sebut stok beras pemerintah capai 4,55 juta ton — ANTARA Jogja
- Harga beras naik lagi Rp200/kg, tekanan datang dari hulu (pantauan Pasar Rumput) — Feedberry/CNBC
- Harga beras semua kualitas naik, data PIHPS 15 Oktober 2026 — Media Kompeten
- Bulog genjot 300 ribu ton beras premium, harga gabah tembus Rp9.000/kg — Bernas.id
- Harga gabah tembus Rp9.200/kg, Mentan: biar petani nikmati harga — Kompas.com
- Produksi turun, kenaikan harga beras berpotensi berlanjut hingga Triwulan I-2027 — Kompas.id