
Dalam satu pekan yang sama, pejabat negara menyebut harga gabah Rp9.200, lembaga negara membelinya Rp6.500, dan di sawah ia berpindah tangan sekitar Rp7.500. Angka mana yang dipakai ternyata bergantung pada kalimat apa yang sedang ingin diucapkan.
Saya menakar gabah hampir setiap hari. Timbangan di penggilingan saya tidak bisa diajak berdebat: ia menunjuk satu angka, dan angka itu yang saya bayar ke bakul, yang saya catat di buku, yang menentukan apakah bulan ini mesin saya untung atau sekadar menyala. Maka ketika dalam satu pekan saya mendengar tiga angka berbeda untuk gabah yang sama, dari sumber yang sama-sama resmi, saya tidak bingung. Saya justru paham: yang sedang ditimbang bukan gabah, melainkan cerita.
Tiga angka, satu komoditas, satu pekan
Awal Oktober ini, Menteri Pertanian menyebut harga gabah “tembus Rp9.200 per kilogram” dan meminta harga itu dibiarkan — “biar petani menikmati.” Di pekan yang sama, Bulog Bandung mengumumkan telah menyerap 84 ribu ton lebih gabah petani, melampaui target, dengan harga beli Rp6.500 per kilogram, “sesuai ketentuan.” Dan di Karawang, salah satu lumbung padi negeri ini, catatan harga harian menaruh gabah kering panen di kisaran Rp6.500–7.500 di tingkat sawah.
Tiga angka. Satu komoditas. Rentang waktu yang nyaris berimpitan. Selisih antara yang tertinggi dan terendah hampir Rp2.700 per kilogram — lebih dari sepertiga. Untuk komoditas yang katanya diatur ketat, itu bukan selisih kecil. Itu jurang.
Saya tidak menuduh ada yang berbohong. Ketiga angka itu barangkali semuanya pernah benar — di satu titik, di satu petak, pada satu hari. Gabah memang tidak pernah berharga tunggal: beda kadar air, beda rendemen, beda jarak ke jalan, beda musim, beda sudah berganti berapa tangan. Justru karena itulah saya hati-hati. Masalahnya bukan angka mana yang jujur. Masalahnya adalah angka mana yang dipilih untuk diucapkan di depan publik — dan angka mana yang didiamkan.
Sesat pikir pertama: memetik ceri
Ada nama untuk cara bernalar ini. Dalam logika ia disebut cherry picking, atau dalam bahasa kita memetik ceri — kadang disebut juga pemilihan bukti secara selektif. Mekanismenya sederhana: dari sekeranjang buah yang sebagian masih mentah dan sebagian busuk, Anda memetik satu ceri paling merah, mengangkatnya tinggi-tinggi, dan berkata, “Lihat, panennya bagus.”
Tidak ada yang berbohong soal ceri merah itu. Ia memang ada, memang merah. Yang keliru adalah menyodorkannya sebagai wakil dari seluruh keranjang. Angka Rp9.200 adalah ceri merah itu: boleh jadi benar-benar terjadi di satu kantong panen terbaik, tapi ia dipajang sebagai potret kesejahteraan petani secara umum, sementara Rp6.500 yang dibayarkan lembaga negara sendiri dan Rp7.500 di sawah dibiarkan di dasar keranjang, tak ikut difoto.
Bedanya dengan sekadar menyembunyikan bukti begini: menyembunyikan bukti itu seperti menutupi cacat yang ada. Memetik ceri lebih halus — Anda tidak menutupi apa pun, Anda cuma sangat selektif soal apa yang Anda angkat. Hasilnya sama menyesatkannya, justru karena setiap potongnya terdengar faktual.
Bagi saya yang di penggilingan, memetik ceri bukan soal akademis. Kalau negara memakai Rp9.200 sebagai gambaran “petani sudah sejahtera,” maka tekanan untuk menurunkan harga beras di hilir seolah tak lagi mendesak — toh katanya semua baik-baik saja di hulu. Padahal gabah yang benar-benar masuk ke timbangan saya tak pernah semurah Rp6.500, dan beras yang saya jual tetap dijaga di bawah plafon. Ceri merah dipajang di Jakarta; keranjang penuhnya saya yang angkat di gudang.
Sesat pikir kedua: pilihan palsu
Kalimat “biar petani menikmati harga” menyembunyikan sesat pikir kedua, dan ini yang paling membuat saya gelisah. Namanya false dilemma, atau pilihan palsu — menyodorkan seolah hanya ada dua pintu, padahal ruangannya punya banyak pintu.
Pilihan palsunya begini: entah kita biarkan petani menikmati harga tinggi, atau kita rampas kesejahteraan mereka. Siapa yang tega memilih pintu kedua? Maka pintu pertama terdengar seperti keberpihakan yang mulia. Tapi perhatikan siapa yang lenyap dari ruangan itu: penggilingan, bakul, pedagang kecil, dan di ujung sana, orang yang menanak nasi untuk anaknya. Seolah satu-satunya cara petani hidup adalah dengan membebani semua simpul setelahnya.
Analogi dari warung mungkin membantu. Bayangkan ada yang berkata, “Biarkan peternak menikmati harga telur tinggi.” Terdengar baik hati. Tapi kalimat itu diam-diam menghapus tukang martabak, pedagang kue, dan ibu rumah tangga yang semuanya butuh telur itu — dan diam-diam menganggap satu-satunya nasib telur adalah mahal atau peternak melarat. Padahal ada pintu ketiga: rantai yang ditata supaya peternak untung wajar dan tukang martabak masih bisa jualan. Pintu ketiga itu yang tak pernah ditunjuk, karena mengakuinya berarti mengakui pekerjaan rumah yang belum selesai.
Dalam beras, pintu ketiga itu bernama sinkronisasi hulu dan hilir. Selama harga gabah di hulu dan Harga Eceran Tertinggi di hilir ditetapkan seperti dua orang yang tak pernah saling bicara, penggilingan di tengahlah yang menanggung selisihnya. Kami ini pengambil harga — price-taker — di dua sisi sekaligus: tak menentukan harga gabah yang kami beli, tak menentukan plafon beras yang kami jual. “Biar petani menikmati” bukan jawaban untuk kami. Itu cuma cara yang sopan untuk memindahkan beban ke tengah sambil terdengar seperti keberpihakan.
Yang tak muat dalam satu angka
Inilah yang membuat saya ingin mengajak siapa pun yang merumuskan kebijakan untuk sekali waktu berdiri di dekat timbangan saya. Sebab satu angka harga gabah — ceri merah mana pun yang dipilih — tak pernah bercerita soal apa yang terjadi setelah gabah itu masuk.
Dari gabah basah menjadi beras yang boleh dijual, ada rendemen yang menyusut, ada pengeringan yang menuntut gas atau tenaga matahari dan waktu, ada listrik dan solar yang terus berdetak, ada upah tenaga kerja, karung, dan ongkos angkut yang tak pernah turun. Kalau rata-rata beras premium nasional pekan-pekan ini saja sudah tercatat di sekitar Rp16.500 — di atas plafon HET tertinggi di semua zona — sementara gabah di hulu bergerak naik dan plafon di hilir diam, maka selisih yang mustahil itu bukan kenakalan pedagang. Itu aritmetika. Dan aritmetika tak bisa disidak.
Bulog sendiri menyebut kenaikan harga ini “tidak terlalu signifikan” dan menjelaskannya dengan “September–Oktober bukan musim panen.” Mungkin benar. Tapi dari kursi saya, yang signifikan bukan seberapa cepat harga naik pekan ini, melainkan bahwa posisinya sudah telanjur di atas plafon yang sama-sama kita sepakati. Menghibur diri dengan laju yang kecil adalah memetik ceri yang lain lagi: memilih menatap kecepatan, supaya tak perlu menatap ketinggian.
Yang kami minta, sekali lagi
Supaya jelas: saya tidak menolak pengawasan. Negara berhak, bahkan wajib, menjaga petani dan menjaga konsumen. Saya juga tidak ikut barisan yang meminta HET dinaikkan — menaikkan plafon hanya mengesahkan harga yang sudah tinggi dan mengirim sinyal ke hulu bahwa gabah boleh naik lagi; itu lingkaran yang tak berujung.
Yang saya minta cuma ini: berhentilah memilih satu angka untuk menang dalam satu kalimat. Baca struktur biaya penggilingan secara utuh — bahan baku, rendemen dan susut, pengeringan, listrik dan BBM, tenaga kerja, karung, angkutan, margin — sebelum menyimpulkan siapa yang nakal. Timbang ulang seberapa agresif penyerapan pemerintah dibanding pasokan pasar komersial. Dan ajak penggilingan ikut duduk saat kebijakan dirumuskan, bukan cuma didatangi saat sidak.
Gabah saya cuma punya satu harga di timbangan saya hari ini. Negara yang sama, di pekan yang sama, punya tiga. Sebelum kita berdebat angka mana yang paling benar, barangkali pertanyaan yang lebih jujur adalah: untuk siapa masing-masing angka itu diucapkan — dan siapa yang namanya tak pernah disebut di antara ketiganya.
Penulis adalah pelaku usaha penggilingan beras. Tulisan ini adalah opini pribadi.
Sources:
- Harga Gabah Tembus Rp9.200 per Kg, Mentan: Biarkan Petani Nikmati Harga — Kompas (8 Okt 2026)
- Bulog Buka Suara soal Kenaikan Harga Beras — Okezone (10 Okt 2026)
- Lampaui Target, Bulog Bandung Serap 84.000 Ton Gabah Petani Dibeli Rp6.500 per Kg — Lingkar.news (12 Okt 2026)
- Harga Gabah Karawang Hari Ini Oktober 2026 — Pelita Karawang
- BPS: Harga Beras Masih Naik di 116 Kabupaten/Kota — ANTARA (5 Okt 2026)
- Harga Pembelian Gabah oleh Pemerintah 2026 Tetap Rp6.500 — Tempo
- Penggiling Beli Gabah di Bawah Rp6.500/kg Bisa Dipanggil Polisi — ANTARA Jabar
- Lampaui Target, Bulog Serap 4,11 Juta Ton Beras Petani hingga Awal Oktober 2026 — RCTI+