Dalam satu minggu, negara mengaku jadi eksportir beras sekaligus diam-diam menimbang menaikkan batas harga berasnya sendiri. Yang keliru bukan angkanya — tapi cara berpikirnya.

Saya menjalankan penggilingan padi di Jawa Tengah. Pekerjaan saya sederhana untuk diucapkan dan berat untuk dijalani: membeli gabah, mengeringkannya, menggilingnya, lalu melepasnya ke pasar sebagai beras. Di antara dua harga itulah hidup mati usaha saya ditentukan. Maka ketika pemerintah bicara soal harga beras, saya tidak mendengarkannya seperti orang membaca koran. Saya mendengarkannya seperti orang yang tahu bahwa setiap kata akan mampir ke buku kas saya minggu depan.

Dan minggu ini saya mendengar dua kabar yang, kalau ditaruh berdampingan, tidak bisa keduanya benar.

Dua Kabar dalam Satu Minggu

Pada 13 September, di KTT BRICS, Presiden menyatakan Indonesia yang dulu importir terbesar biji-bijian kini “adalah eksportir” dan siap membantu dunia. Kalimat itu enak didengar. Ia membayangkan gudang yang penuh, sawah yang melimpah, negeri yang sudah lewat dari soal cukup-tidaknya makan.

Dua hari kemudian, 14–15 September, kabar dari dalam negeri berbunyi lain. Stok cadangan beras di gudang Bulog, kata Bulog sendiri, tinggal 4,722 juta ton — turun dari 5,4 juta ton, susut hampir 700 ribu ton. Beras premium kemasan langka di rak ritel. Badan Pusat Statistik mencatat harga beras kembali naik di pekan kedua bulan ini. Beras kelas atas di beberapa pasar menembus Rp18.000 per kilogram. Dan yang paling menarik buat saya: mengemuka wacana pemerintah mengkaji ulang — membaca relaksasi, sebagian menyebut menaikkan — Harga Eceran Tertinggi (HET) beras premium, dengan alasan stok menipis dan harga gabah mahal.

Berhentilah sejenak di situ. Sebuah negeri yang pekan ini mengaku eksportir, di pekan yang sama menimbang menaikkan batas atas harga beras di dalam negerinya sendiri. Kalau kita benar sedang membanjiri dunia dengan surplus, kenapa harga di rumah sendiri justru naik sampai harus dinaikkan pagarnya? Eksportir yang kelebihan barang tidak menaikkan harga jual eceran; ia menurunkannya. Salah satu dari dua kabar itu sedang tidak mengatakan yang sebenarnya. Tugas kita, sebelum ikut lega atau ikut panik, adalah menolak menelan keduanya bulat-bulat.

Bukan HET-nya yang Kurang Tinggi

Saya ingin jujur soal posisi saya, karena mudah disalahpahami. Penggilingan seperti kami tidak sedang meminta HET dinaikkan. Justru sebaliknya. Menaikkan HET, bagi kami, bukan obat — ia sinyal.

Begini logikanya, dan tolong ikuti pelan-pelan. Harga di pasar terbentuk dari tarik-menarik banyak orang yang saling membaca gerak-gerik lawan mainnya. Ketika negara menaikkan batas atas harga beras, ia sesungguhnya sedang mengumumkan satu hal kepada seluruh rantai di hulu: “ada ruang harga baru di atas sana.” Bakul membacanya, tengkulak membacanya, dan pada akhirnya harga gabah kering panen ikut merangkak naik menyesuaikan plafon yang baru. Beberapa bulan kemudian, harga beras kembali mentok di pagar yang baru itu, orang kembali berteriak, dan pemerintah kembali diminta menaikkan HET. Kita sudah berputar satu lingkaran penuh — hanya di ketinggian yang lebih mahal untuk semua orang.

Izinkan saya menamai keliru bernalarnya, supaya jelas.

Sesat pikir pertama: salah sasaran — mengobati gejala, bukan penyakitnya (wrong problem). Menyangka menaikkan plafon akan menutup jurang. Jurangnya bukan antara harga beras dan langit-langit HET; jurangnya antara harga gabah di hulu dan HET di hilir. Menaikkan salah satu ujung pagar sama sekali tidak mempersempit jarak itu — ia hanya menggeser seluruh pagar ke atas. Harga tinggi di rak adalah gejala; penyakitnya ada di jarak hulu-hilir. Menaikkan HET seperti meninggikan atap rumah yang lantainya juga ikut naik: kepala penghuni tetap mentok, cuma rumahnya jadi lebih mahal untuk semua orang.

Sesat pikir kedua: lingkaran setan — obat yang memberi makan penyakitnya sendiri (self-defeating feedback loop). Harga gabah tinggi diperlakukan sebagai takdir yang harus diikuti HET, padahal HET yang mengejar itulah yang mengesahkan gabah untuk naik lagi. Naikkan plafon, sinyalnya terbaca hulu, gabah ikut naik, beras kembali mentok di pagar baru, orang berteriak, HET diminta naik lagi. Kita berputar satu lingkaran penuh — hanya di ketinggian yang lebih mahal untuk semua orang. Ini bukan solusi; ini roda yang memutar dirinya sendiri.

Sesat pikir ketiga: pilihan palsu (false dilemma). Bulan-bulan lalu resep pemerintah adalah menekan — sidak, sweeping, ancaman menutup toko yang menjual di atas HET; sampai hari ini pun ratusan titik di ratusan kabupaten dipantau. Bulan ini resepnya berbalik: mari naikkan HET-nya. Seolah kita cuma punya dua pintu: paksa pedagang jual rugi, atau naikkan pagarnya. Padahal kedua pintu itu bermuara ke ruangan yang sama, dan di ruangan itu jurang hulu-hilir dibiarkan menganga persis seperti semula. Pintu ketiga — menyinkronkan hulu dan hilir — justru tak pernah ditawarkan.

Yang Terjepit di Tengah

Kenapa saya begitu yakin? Karena saya berdiri tepat di titik jepitnya.

Penggilingan adalah price-taker. Kami tidak menentukan harga gabah — kami membelinya di harga yang sudah dibentuk pasar, yang kini di lapangan berkisar Rp7.000–Rp7.600 per kilogram di tingkat petani, jauh di atas Harga Pembelian Pemerintah Rp6.500. Begitu gabah itu masuk ke penggilingan, harganya masih ditambah ongkos yang jarang dilihat orang dari luar: susut dan rendemen yang tak pernah 100 persen, pengeringan, listrik dan solar, tenaga kerja, karung, dan transport. Jumlahkan semua, dan beras yang keluar dari pintu saya sudah berada di ambang — bahkan kerap melampaui — HET Rp14.900 untuk Zona I. Rata-rata beras premium nasional saja sudah tercatat Rp15.626 per kilogram di awal bulan, di atas pagar itu.

Ini bukan cerita saya sendiri. Peritel besar melalui Aprindo mengatakan hal yang sama dengan bahasa mereka: stok premium sebenarnya ada, tetapi mereka menahan diri membeli karena harga dari pemasok bisa di atas HET — menjual sesuai HET berarti rugi. Pengamat dari CORE Indonesia menyebut akar soalnya persis: ketidaksinkronan biaya hulu yang naik dengan HET di hilir yang diam. Rak yang kosong itu, dengan kata lain, bukan tanda beras habis. Ia tanda bahwa di harga yang ditetapkan, tidak ada orang waras yang mau berjualan. Langit-langit yang dipatok di bawah lantai biaya tidak menahan harga; ia mengusir barang dari rak.

Membaca Angka yang Tak Cocok

Di sinilah saya minta kita berhati-hati, sekaligus tak menutup mata. Saya tidak sedang menuduh siapa pun berbohong; itu bukan hak saya tanpa bukti. Tapi saya berhak menaruh angka-angka resmi berdampingan dan bertanya kenapa mereka tak saling cocok.

Kalau kita eksportir, kenapa stok cadangan justru turun 700 ribu ton dan sekitar 380 ribu ton beras bermutu rendah malah disiapkan untuk dilelang jadi tepung? Kalau pasokan melimpah, kenapa yang tersedia di penugasan Bulog, menurut Bulog sendiri, hanya beras medium dan bukan premium yang dicari orang? Klaim ekspor dan rak premium yang kosong tidak bisa keduanya menggambarkan negeri yang sama pada minggu yang sama. Saya tidak mengatakan salah satunya pasti palsu. Saya mengatakan: perlakukan keduanya sebagai klaim yang harus diuji, bukan kebenaran yang harus diterima — termasuk klaim yang datang dari mimbar paling tinggi sekalipun.

Yang Sebenarnya Perlu Disetel

Lalu apa yang saya minta, kalau bukan HET naik? Saya minta yang disetel adalah jarak, bukan pagar.

Pertama, sinkronkan hulu dan hilir. Selama HPP gabah dan HET beras ditetapkan di dua meja yang tak saling bicara, penggilingan akan selamanya jadi bantalan yang menyerap selisihnya sampai remuk. Kedua, kalau ada sidak, bacalah struktur biaya secara utuh — bahan baku, rendemen, pengeringan, energi, upah, kemasan, transport, margin — bukan cuma harga jual di etalase. Angka di rak adalah akhir cerita, bukan awalnya. Ketiga, seimbangkan penyerapan Bulog dengan pasokan pasar komersial, dan evaluasi jujur soal maklon serta standar rendemen. Keempat — dan ini yang paling sering dilupakan — libatkan penggilingan sejak perumusan kebijakan, bukan cuma memanggil kami saat harga sudah telanjur bergejolak.

Prinsipnya satu, dan sederhana: kebijakan yang adil dan masuk akal harus membuat semua pihak tetap bisa hidup — petani, bakul, penggilingan, Bulog, pedagang, dan konsumen sekaligus. Bukan satu pihak dikorbankan supaya angka satu pihak lain terlihat rapi.

Penutup

Anda boleh menaikkan langit-langit rumah ini setiap tahun. Tapi selama lantainya juga terus naik dan tak ada yang mau menengok siapa yang berdiri terjepit di antara keduanya, Anda tidak sedang memberi ruang bernapas kepada siapa pun. Anda hanya sedang membangun ruangan yang makin tinggi, makin mahal, di sekeliling orang yang tetap saja terhimpit — dan minggu ini, orang itu masih saya.

Penulis adalah pelaku usaha penggilingan beras. Tulisan ini adalah opini pribadi.

Sources: